Saya jatuh cinta
Dan menjadi kejam karenanya
Apapun demi cinta saya.
Yang tidak berkaitan dengan cinta-cinta saya
: (mungkin) terluka!

Loneliness
***

Saya mulai jatuh cinta kepada dunia fotografi, ketika pada tahun 2003 seseorang memberikan cetakan berisi profil Bresson kepada saya. Belakangan saya menemukan nama-nama besar lainnya. Ansel Adams misalnya. Namun porsi ketertarikan saya kepada lansekap tidak sebesar minat saya kepada foto hitam-putih Bresson yang membekukan kehidupan sekaligus bercerita banyak dalam setiap frame-nya. Decisive moment, ceunnah.

Karena profil Bresson, saya bermimpi memiliki sebuah kamera SLR, yang alamak, tak mampu saya beli. Dan lagi-lagi, saya membenarkan kalimat Coelho: “When you want something, the universe will conspire to help you”.
Voila! Februari 2009, sebuah kamera DSLR menghiasi hidup saya dan telunjuk kanan saya mulai keasyikan menekan-nekan shutter.
Dan perjalanan panjang pun dimulai.

“Your first 10,000 photographs are your worst”, kata Henri Cartier-Bresson kepada saya ketika minum kopi bersama diujung malam pada ruang imajiner.

“Please tell me more about it, Monsieur”, celetuk saya antusias sambil meletakkan secangkir kopi kental di hadapannya.

“Actually, I’m not all that interested in the subject of photography. Once the picture is in
the box, I’m not all that interested in what happens next. Hunters, after all, aren’t
cooks”, lanjutnya lagi.

Saya mencoba mencerna sambil membuka kamus bahasa Inggris bertuliskan Oxford. Oh, jadi tukang jepret itu ibarat pemburu toh…mungkin ini ada kaitannya dengan pengalaman Mbah Bresson yang pada tahun 1931, diumur 22 tahun, beliau pergi berburu ke Afrika Barat.
Sebenarnya saya ingin bertanya tentang fotografer studio yang justru tidak berburu, namun meracik bidikannya dalam mengeksekusi ide-ide, mengemas Art Direction; memasak semuanya dalam studio dan tidak berburu dalam ruang-ruang kehidupan. Ah…saya tidak ingin merusak pembicaraan saya dengan Bresson. Saat ini saya cuma ingin mendengarkan. Saya nyalakan sebatang rokok.

“Photographers deal in things which are continually vanishing and when they have
vanished there is no contrivance on earth which can make them come back again”, lirih suaranya. Matanya seolah-olah menembus tubuh saya. Seolah-olah saya tidak ada. Sialan! Orang yang aneh!
Dalam sebuah edisi Spiegel sesaat setelah meninggalnya sang maestro, salah seorang sahabatnya menceritakan pribadi Bresson. Menurutnya, lelaki satu itu adalah seorang yang aneh. “Anda mungkin sedang duduk menghadapi lelaki itu di sebuah restoran dengan semangkuk sup tomat. Seketika itu juga, saat pembicaraan sedang hangat, Bresson mungkin akan menghilang entah kemana. Baru 30 menit kemudian ia akan kembali duduk dan melahap sup tomatnya yang sudah menjadi dingin itu.”*

“The photograph itself doesn’t interest me. I want only to capture a minute part of
reality”, suaranya kembali menghancurkan khayalan saya.

Dia sedikitpun belum menyentuh kopi yang telah saya buatkan.

“We photographers deal in things which are continually vanishing, and when they have
vanished there is no contrivance on earth can make them come back again. We
cannot develop and print a memory”, suaranya terdengar agak sedih. Mengingat kembali pengalamannya sebagai tahanan perang tentara Jerman pada Perang Dunia II? Entah…

Saya sendiri sambil mendengarkan, latah menimang-nimang SD Card berkapasitas 2 GB. Untuk menyimpan semua momen di dunia ini, untuk mengabadikan memori, berapa banyak SD Card ataupun cakram terrabyte yang dibutuhkan? Apakah, misalnya, saya ketika berdiri di hadapan Taj Mahal, akan sekedar menatap lewat view-finder tanpa mengagumi dan menyelami bangunan ajaib itu dengan mata dan kepala saya? Sekedar klik dan menambahkan byte dalam tempat penyimpanan? Untuk situasi ini, ada yang bilang bahwa fotografi sudah mati. Konon, seperti juga dulu Nietzsche mendeklarasikan kematian Tuhan, demikian halnya juga aksi point & click telah kehilangan esensi-nya. Selamat datang di dunia digital dan segala kemudahan-kemurahannya, Kawan.
Pernah saya baca, jaman baheula di awal-awal produk Daguerretype, seseorang yang ingin dijepret harus menguras kocek yang ekivalen dengan sejumlah USD$1000 pada tahun 2006. Ahh…mungkin fakta ini tidak terlalu relevan dengan peti mati fotografi.

“I’m not responsible for my photographs. Photography is not documentary, but intuition,
a poetic experience. It’s drowning yourself, dissolving yourself, and then sniff, sniff,
sniff—being sensitive to coincidence. You can’t go looking for it; you can’t want it, or
you won’t get it. First you must lose your self. Then it happens”, kali ini nada suaranya terkesan marah, seolah memaksa saya untuk mengeset fokus pikiran saya hanya kepada beliau.

“Please go on, Mbah”, kata saya pelan.

Hening. Tidak ada suara lagi. Sosok Bresson perlahan memudar seiring mengecilnya aperture lensa mata saya.

Kopi semakin dingin. Tidak tersentuh.

Saya mulai mengalami apa yang disebut sebagai Rapid Eye Movement ketika sepotong kalimat terlempar di udara:

“Practice makes perfect!”

Ahh…kalau ini mah suara Mpu Gondring dan kawan-kawan.

@@@

** Data & Kutipan dari berbagai sumber di belantara internet.

Di sinilah sekarang saya berada: di sebuah pantai eksotis, 24 jam sebelum saya menjalani operasi plastik kesekian.Sambil menikmati tequila, saya menatap layar TV berisi siaran langsung pemakaman saya.
Ternyata dunia masih mencintai saya.

Ini adalah sebuah konfessi, bahwa saya harus melakukan langkah ini: membunuh eksistensi sisi superstar saya; membunuh keakuan saya. Kelola media, isu, dan kontroversi…lengkaplah sudah. Hal ini bisa menyelesaikan masalah keuangan dan selamat dari audit pajak.

Konfessi tanpa konfetti ini singkat, sesingkat gerak tequila melumpuhkan kesadaran.
Besok, saya akan berganti wajah dan terlahir kembali. RIP, myself.

***

Ayat-Ayat Gaban

May 2, 2008

Ayat 1. Urusan perasaan, seringkali
membuat orang-orang pintar terlihat
bodoh. Saya sudah melihat banyak sekali
penyair yang hebat dalam hal
berkata-kata akhirnya menjadi tolol
karena tidak mampu membangun kata yang
tepat untuk menyelesaikan masalah
praktis. Saya sudah melihat seorang
arsitek papan atas negara ini, yang jago
dalam membangun rumah, justru gagal
total hanya untuk membangun ‘rumah’
yang indah untuk anak-istrinya. Hebat
dalam hal struktur bangunan yang
menopang bangunan indah, dia justru
gagal menciptakan fondasi yang kokoh
untuk sebuah rumah-tangga. Saya telah
kehilangan kekaguman saya terhadap
orang-orang dengan prestise tinggi. Saya
berhenti mengkultuskan individu. Hal
sedemikian membuat saya kecewa.

Ayat 2. Menghakimi orang lain membuat
saya kecewa. Tidak baik juga untuk
kesehatan, karena sering membuat merasa
diri sendiri lebih benar. Jadi, saya
juga akan berhenti menghakimi orang
lain, saya akan berhenti menyalahkan
sistem, karena toh saya yang ada di
dalam sistem tidak mampu berbuat apapun
untuk membuat sistem itu menjadi lebih
baik. Ibarat sebuah batu bata dalam
bangunan, saya akan fokus saja untuk
menjadi sepotong batu bata yang baik
untuk sistem tersebut. Saya akan fokus
menjadi sebuah sel yang sehat dalam
organ pembangun sistem sosial. Walaupun,
sistem sosial yang ada sudah berlabel
buruk.

Ayat 3. Label buruk, saya pikir, adalah
hasil pengkondisian. Ibarat iklan yang
mensugesti ibu-ibu untuk percaya bahwa
susu anu dalam kemasan anu baik untuk
kesehatan anak, bahkan lebih baik
daripada untuk sekedar mengorbankan
teteknya sendiri untuk dihisap si jabang
bayi. Akhirnya datanglah isu seputar
virus dalam susu kemasan.

Ayat 4. Ya. Label buruk cuma masalah
pengkondisian. Semacam kongregasi yang
terkondisikan untuk percaya akan label
hitam-putih dalam karya Ilahi. Padahal,
warna putih sendiri memiliki spektrum
warna-warni ketika dibiaskan melalui
medium dengan indeks bias tertentu.

Ayat 5. Saatnya untuk memilih menjadi
nol, menjadi kosong, dan membiarkan
segala macam kemungkinan untuk mengisi,
lalu menjadi nol lagi.

Ayat 6. Menjadi nol itu baik. Apapun
yang dikalikan dengan nol akan tetap
nol. Apapun yang dibagikan dengan nol
akan menjadi tak terhingga.

Ayat 7. Hasrat-hasrat di dunia ini tidak
pernah menjadi nol. Orang-orang selalu
memiliki hasrat-hasrat yang tidak nol,
sehingga bumi dan kehidupan di dalamnya
tidak pernah cukup untuk setiap orang.
Bumi dan kehidupan yang pada dasarnya
selalu tetap ketika dibagi secara
matematis dengan hasrat-hasrat yang
menggunung, hasilnya akan kecil sekali.
Mereka yang sangat bernafsu, akhirnya
mengeksploitasi. Terjadilah bencana.
Terjadilah kondisi dimana ketika suhu
bumi akan meningkat 6 derajat lagi, maka
gawatlah bumi ini.

Ayat 8. Menjadi nol itu setimbang.
Sebagai titik tengah untuk panjang ruas
negatif dan ruas positif yang sama.

Ayat 9. Menghakimi orang lain itu tidak
baik. Saya akan mencoba menjadi nol
saja, tanpa tendensi ingin berlabel baik
sebagai mahluk ciptaan Ilahi dengan niat
mendapatkan tiket berangkat ke surga.

Ayat 0. Saya ingin menjadi nol supaya
bisa berkaca ke dalam hati saya yang
nol.

Desah Pengobral Doa

September 17, 2007

1.

Sayang,

 

Sebelumnya aku ingin sekedar mengingatkan, bahwa surat ini tidak jelas nasibnya: sampai ataukah tidak. Biarlah himpunan huruf-huruf ini mencari pembacanya sendiri. Selanjutnya, aku mati.

 

Hey! Apa kabar?

Belum sampai sebulan, namun rasanya sudah seperti puluhan tahun aku tidak bertemu kau. Mungkin ratusan tahun sudah masanya setelah terakhir kali kita bersua.

 

Kalau aku tidak salah, dalam perjuanganku melawan lupa, saat itu aku sedang berburu bersama pengawal-pengawalku yang setia. Ya, pada kedalaman hutan paling ganas di seantero bumi Borneo. Aku sedang meminum air sungai, bak seekor anjing dahaga, saat kau muncul di kejauhan. Di kejauhan itu pulalah aku melihatmu dengan keindahan kaummu yang paling purba, bak seorang dewi khayangan dari kisah Joko Tarub. Telanjang. Aku menelantarkan kijang buruanku yang telah mati begitu saja. Pada detik pertama aku melihatmu, kupikir aku telah mendapat objek buruan baru. Bedanya, kau tidak seharusnya mati supaya takluk sebagai milikku. Bedanya lagi, kau bukan binatang buruan. (Di zaman sekarang, menurut dokumen Taksonomi, aku baru mengetahui bahwa kita dan binatang ternyata berada dalam kerajaan yang sama. Bukti-bukti membuat kita percaya).

 

Let’s skip the details: ketika senja menjelang, aku dan kau telah bercinta di tepi sungai. Berjam-jam lamanya. Aku tidak seperkasa itu. Cuma denganmu entitasku ditempeli label pejantan gagah. Kau dan aku tidak peduli bahwa sebenarnya aku telah memiliki seorang permaisuri yang selalu cemas kala aku pergi berburu. Akukah sang pemburu? Ataukah justru telah menjadi mangsa? Kita tak perduli. Lalu kata-kata adalah trivia; yang ada cuma desah. Setengah jam berikutnya, di bawah purnama dalam iringan lolong serigala, sontak kau meninggalkanku tanpa kata. Sepertinya, lolongan itu semacam alarm bagimu. Aku terdiam dengan orgasme yang tertunda. Itulah terakhir kali kita berjumpa.

 

Kau tahu? Sejak itu duniaku berubah. Aku tidak tahu pastinya bagaimana. Yang kurasakan adalah seolah kini tidak ada lagi kutub-kutub ekstrim dalam hidupku. Aku, ibarat arwah penasaran yang melayang-layang di batas cakrawala. Titik perubahan itu kulihat dari wajah-wajah tanya para pengawal setiaku di sela-sela perjalanan pulang. Aku tak peduli. Sejak itu pula, aku tidak peduli lagi tentang intrik busuk yang telah lama kucium dalam tubuh pemerintahan negeriku. Konon, Dukun Suci menginginkan tahtaku, juga tubuh permaisuriku. Aku tidak peduli. Di kepalaku cuma ada kamu.

Itulah yang bisa kuingat saat ini. Kisah selanjutnya aku lupa. Tentang nasib pemerintahanku, tentang aku yang meregang nyawa ditengah-tengah kudeta; aku juga lupa. Anggap saja sebuah titik singular untuk rangkaian-rangkaian peristiwa.

 

Entah berapa kali sudah aku terlahir dan mati pada zaman-zaman yang berbeda, satu hal yang tak pernah bisa hilang: pencarianku atas kau. Dahaga rinduku yang tak terpuaskan. Aku sungguh-sungguh terkutuk! Entah dosa apa yang telah kulakukan! Pencarianku tak kunjung berakhir. Dalam tubuh-tubuh wanita, kau tak kunjung kutemukan. Apakah untaian benang reinkarnasi-mu terputus dan kau kini abadi di dunia para dewa dan dewi? Apakah kau cuma sekedar terlempar jauh dari aku? Takdir? Apa yang harus kulakukan supaya Empunya Langit mau menggoreskan takdir yang berpihak padaku? Apakah aku harus menyuapNya dengan hati yang sontak syahdu dan membisikkan doa-doa pertobatan mengemis pengampunan?

 

Takdir?

 

***

 

2.

Sialan! Batere Kamera HDV yang kupakai habis sudah. Sementara Adegan illegal logging sedang berlangsung di depan mataku. Seharusnya ini bisa menjadi materi advokasi yang sangat bisa diandalkan. Aku cuma bisa mengutuk dalam hati tatkala mereka memperkosa hutan Borneo. Di balik semak-belukar, dengan peran sebagai santapan-santapan nyamuk, Aku dan Udin membisu. Kami seolah cuma sebagai pembaca kitab kiamat pada bab pemanasan global dengan catatan kaki berupa ayat-ayat dalam Protokol Kyoto. @njing!

 

Laksana geraman Iblis, gergaji melukai tubuh pepohonan. Ketika sebatang pohon tumbang, aku melihat sesosok wanita di kejauhan. Kaukah itu?

 

Ribuan tanda tanya kini menyulap penebangan liar, perubahan iklim, dan Protokol Kyoto menjadi trivia (lagi).

 

Kaukah itu?

 

Dialog-dialog platonian seolah requiem yang mengangkasa untuk pohon-pohon tumbang. Wanita itu, berdiri seolah pendeta dalam acara pemakaman.

 

Kaukah itu, sayangku? Bahkan aku tak tahu namamu. Mengapa justru rangkaian huruf ‘Milan Kundera’ adalah nama yang muncul untuk sebuah Kitab Gelak Tawa? Kitab lupa?

 

‘“Hei, kalian berdua! Jangan bergerak!”’, itulah kalimat terakhir yang kuingat. Lalu semuanya mendadak hitam.

 

***

ACT. 3 Confession & Punishment & Love
Ya, benar, gravitasi akan selalu menang. Setiap orang yang ingin belajar terbang, sebaiknya belajar dahulu tentang gravitasi. Belajar dahulu tentang bobot yang menciptakan tarikan. Juga belajar tentang manajemen resiko di dalam konteks ‘gravitasi dan terbang’ itu, yaitu: jatuh dan terhempas!

Ini adalah sebuah epik untuk seorang bajingan seperti aku. Epos tentang kematian berulang-ulang dari seorang pengecut. Kematian-kematian  akibat cengkraman paradigma sistemik: hitam-putih. Ini salah: itu benar. Kamu benar, aku salah!

***

Jadi, pada suatu hari, Sang Bajingan mencoba terbang dari atas tanah yang menjadi unsur astral-nya. Batasan, aturan, norma dan nilai telah diterobosnya, dengan segala stigma dan luka yang menjadi resultante akhir. Kebahagiaan? Dia sudah tidak peduli lagi.

Sang Bajingan, bak patung lilin yang terbang ke matahari. Semakin dekat, semakin dia meleleh. Dia mulai mempelajari sesuatu: menembus batas berarti abu. Mendekati matahari saja sudah beresiko meleleh. Bagaimana kisahnya jika dia berusaha mendekati Tuhan, atau apalah nama yang diberikan manusia untuk Penguasa Tunggal jagat raya ini.

Menembus batas berarti abu. Sang Bajingan kehilangan bobot dalam hitungan waktu. Tanpa bobot, dia kehilangan tarikan atas objek-objek. Dia hanya mengapung di cakrawala.

Setiap bagiannya mengapung di seantero jagat, membawanya kepada misteri-misteri yang ternyata sangatlah sepi. Dingin.

Sang Bajingan, melayang bersama penerbang-penerbang roh lainnya. Namun tidak ada tegur-sapa. Dalam diam dan sepi, mereka mencoba menguak sepi dengan resiko tersesat dalam keabadian. Loneliness plus loneliness equals big sum of loneliness. Komunikasi telah berubah wujud menjadi Menara Babel dengan orientasi arah-julang pada setiap derajat lingkaran tiga dimensi. Atas dan bawah menjadi relatif. Jadi, dimana letak puncak Menara itu?Pada cakram Saturnus dia menorehkan sesuatu dalam eksistensi yang entah apa:
aku cinta apapun.
[Cinta?]